CERPEN
Aku hidup
hanya berdua dengan mamah, sejak kecil aku tak pernah mengenal sosok Bapak. Mamahku
bilang dia meninggal sejak aku masih dalam kandungan. Tiap malam aku selalu melihat
mamah di bawa oleh teman laki2nya yang tak pernah aku kenal karena tiap malam
teman mamah selalu berganti-ganti. Dan aku heran kenapa teman2 SD selalu
mengolok-olok aku dengan sebutan anak haram, sampai SMA aku selalu sendiri dan
tak pernah punya teman.
Menjelang
kuliah, mamah mengajariku bagaimana caranya mencari uang, dia bilang aku harus
menuruti apa yang laki-laki mau dan mereka akan membayar kita dengan jumlah
uang yang sangat banyak, dan aku bisa membeli apapun yang aku mau. Aku tak
pernah bisa menolak perintah mamah, mungkin ini sudah jadi jalan hidupku.
Tiap
malam aku mencari uang untuk biaya kuliah, teman kuliahku tidak pernah tau
kehidupan gelapku, aku tak pernah mengajak mereka main kerumah meskipun mereka
maksa ingin tau di mana tempat aku tinggal. Karena aku tidak ingin di kucilkan
teman2 kalau mereka tau profesiku. Dan baru kali ini aku merasakan senangnya mempunyai
seorang teman. Temanku itu sangat lugu dan pemalu, dia gadis berkerudung yang
berasal dari kampung. Tapi dia sangat pintar dan baik hati, dia selalu
menolongku mengerjakan tugas2 yang sangat sulit. Karena dia sangat baik maka
aku selalu mengajak dia makan siang dan membayar angkot tiap kami pulang dan
pergi kuliah, kebetulan rumahku dengan kost an dia satu jurusan, jadi tiap berangkat kuliah aku
selalu menyempatkan diri untuk menjemput dia supaya bisa bareng kuliah. Pertemanan
kami semakin erat, aku sering membelikannya baju, sepatu, tas dan semua
kebutuhan dia. Aku kasian melihat keadaannya karena dia berasal dari keluarga
yang kurang mampu tapi punya semangat tinggi untuk mencari ilmu. Aku sangat
menyayangi dia, aku sudah menganggap dia sebagai kakakku. Dia selalu
menasehatiku dengan nasehat2 yang membuatku segar dan semangat kembali.
Suatu
hari dia mengajakku Sholat ke Mesjid, aku sedikit tercengang, karena selama ini
aku tidak pernah menyentuh yang namanya mukena, di KTP aku memang beragama
Islam tapi aku tidak pernah mengerjakan ajaran2 Islam, aku hanya tau gerakan
sholat tapi tidak pernah hafal bacaannya, aku tak bisa membaca Al-Qur’an dan
aku tak pernah tau apapun yang menyangkut ajaran Agama. Dari pada aku keliatan
kikuk lebih baik aku berterus terang kalau sebenarnya aku tidak tau ilmu agama,
untungnya temanku bisa faham dan dia bersedia jadi guru spiritualku. Tiap ada
kesempatan aku selalu di ajarinya mengenai agama. Semakin tau agama lebih dalam
aku semakin tau juga kalau aku sudah sangat berdosa dan aku harus meninggalkan
profesiku ini. Tapi tantangan terberat bagiku adalah mamah dia akan sangat
marah besar kalau aku berniat untuk berhenti. Anak2 peliharaan mamah suka dipukuli
bodyguard kalau mereka minta berhenti kerja.
Sebentar
lagi gelar Sarjana akan kami sandang, tapi musibah telah menimpa temanku.
Ayahnya telah meninggal dunia karena tertimpa tembok runtuh saat dia kerja,
sehingga sekarang dia tidak mampu lagi untuk membayar kost dan biaya lainnya. Padahal
sebentar lagi kuliah kami selesai, sekarang kami sedang mengerjakan Tugas Akhir.
Temanku
minta tinggal di rumahku sampai wisuda nanti, aku sangat sedih dan menyesal
karena aku tidak mampu memenuhi permintaan temanku kali ini.
“Ma’af
Rin…kali ini aku tidak bisa memenuhi permintaanmu, bukannya aku merasa
terbebani tapi aku tidak bisa terbuka untuk masalah kondisi rumahku. Bagaimana
kalau aku yang bayar kost an mu itu” Usulku.
Tapi
temanku itu tidak mau menerima usulanku dia memilih untuk pulang kampung dengan
alasan tidak ingin merepotkanku, dan aku tidak bisa mencegah dia karena aku
sendiri tidak bisa menolong dia.
Sampai
sekarang aku kehilangan jejak dia, aku ingin sekali bertemu dengan teman
terbaikku itu, aku ingin mengucapkan terima kasih karena dia telah meluruskan
jalanku. Andai dia tau, tentunya dia akan ikut bahagia karena sekarang akupun
sudah berkerudung seperti dia dan sekarang aku tinggal di Asrama Putri untuk
lebih mendalami Ilmu Agama. Aku memutuskan untuk meninggalkan dunia glamorku
dengan konsekuensi di benci ibuku sendiri. Kini aku merasakan kedamaian yang
selama ini aku mimpikan. Dan aku selalu berdo’a mudah-mudahan suatu saat nanti
aku akan bisa mengajak mamahku untuk tinggal di Asrama ini. Supaya bisa sama-sama
merasakan kebahagiaan yang Hakiki.
SEKIAN
by
CdR
SEKIAN
by
CdR


Tidak ada komentar:
Posting Komentar